Amanah Tak Pernah Sirna

7:00 AM

Pagi ini, aku bangun seperti hari-hari biasanya. Cuaca cukup mendung dan hujan terus mengguyur kota Makassar, membasahi ujung jilbabku. Aku rasa, aku belum siap. Belum siap secara mental dan juga secara emosional, untuk mengakhiri kebersamaan berkesan di AMANAH.

Aku menatap lekat-lekat setiap sudut dinding ruang lantai 3 (redaksi Amanah) yang sepi senyap, sejenak aku membayangkan kisah semalam sejak diumumkan bahwa Amanah kini tinggallah nama. Tiba-tiba saja kami sama-sama tersenyum bahagia padahal hati merana.

Hari ini tak ada lagi suara-suara gaduh itu. Mereka semua berada di balik tembok, mungkin; sedang meratap sedih ataukah menyalahkan diri sendiri. Seperti aku yang belum bisa move on, malah kembali ke sini. Mengulang kisah indah dalam imajinasi dan khayalanku untuk masa lalu.

Dengan tatapan setengah sadar, aku mencoba menghadirkan wajah-wajah kenangan di setiap sudut kantor. Namun setiap ratusan kenangan yang hadir justru membuatku tak kuasa menahan linangan air mata. Hati sesak tanpa daya, seakan menghirup nada sesaknya rindu.

Hal tersulit adalah kembali mengingat kenangan, saat kami dikejar deadline dan harus kerja hingga larut malam. Membawa bekal dan dimakan bersama, terasa sekali nikmatnya (yaiyyalah gratis. Aku kebiasaan nebeng makan, jarang bawa bekal maklum anak kos hehehe).

Teringat jua, perjuangan dan kelelahan hari itu adalah milik kita. Malam sudah sangat larut namun kami baru pulang dari kantor. Saat bulan dengan dermawannya menyinari malam dan jalan sudah tak bising dengan suara kendaraan. Kita menuju parkiran masih dengan candaan, lalu meng-gas motor bersama, melewati dingin. Terbersit doa, mudah-mudahan letih dan lelah ini terbayarkan dengan puasnya pembaca koran Amanah dipagi hari; harapan sang kuli tinta.

Senyumnya, sedihnya, tawanya, tangisnya, pintarnya, bodohnya (sy ji ini), dan juga konyolnya. Segala waktu yg sdh tercipta di ruang ini berpendar-pendar dalam pikirku. Semua kejadian bertumpuk di depanku, seakan nyata.
**
Hampir dua tahun aku berkarir di kantor ini, rasa-rasanya berlalu begitu cepat. Pun aku juga melewati banyak kisah, berbagai pelajaran, suka dan duka bahkan hinaan. Dalam lingkup ini, aku lebih mengerti apa gunanya keluarga dan teman, bagaimana rasanya dicalla dan mencalla. Sangat membahagiakan. Semua kenangan ini menjadi akar di setiap hati kita masing-masing.

Cukup berat untuk kehilangan AMANAH, tempat kerja yang sudah menjadi rumah kedua, sebab aku biasanya lebih betah di kantor daripada di kosan. Makan, tidur, nonton semuanya serba kulakukan di kantor teduh ini.

Pastinya lebih menyenangkan jika segala sesuatu berjalan seperti yg kita inginkan, tapi hidup tidaklah seperti itu. Rencana tetaplah rencana, jika itu mulus-mulus saja artinya kurang tantangan. Meski Amanah berubah menjadi sesuatu yang baru, tapi bagiku dan mungkin juga bagi mereka; Amanah tak pernah sirna. Dia hanya bermetamorfosis. Memang sulit di awal, berat. Seberat Dilan yg memikul rindu. Namun bagaimanapun sulitnya, kita harus tetap menjadi seperti coklat yang manis dan bahagia.
**
Dan sembari Amanah "parkir" aku pun menyandang sebutan "pengangguran". Ahh, rasa-rasanya lebih enak jadi mahasiswa dari pada jadi penganggur. Butuh uang tinggal minta orantua. Butuh pakaian tinggal terus terang. Butuh ini dan itu asal pandai merayu. Is magic!

Menjadi penganggur ternyata lebih pahit dari yang pernah kubayangkan. Keuangan sulit. Pakaian harus punya beberapa pasang. Sebab malu kalau harus memakai pakaian itu-itu saja. Cari kerja susah. Pokoknya sama sekali tidak sejahtera baik lahir maupun bathin.

AMANAHKU
Amanahku, waktu telah mengantarkan kita pada satu titik pemahaman,
bahwa di dunia ini tak ada yg abadi

Kini saatnya Amanahku berganti mengikuti takdir yang telah tergariskan

Dalam ruang dan waktu yang berbeda
Ketika kebersamaan menjadi langka
Lalu canda tawa begitu berharga

Amanahku, semoga waktu tak membuat kita lupa, jika Amanahku pernah ada
Pernah punya cerita
Amanahku, abadilah tercipta lebih dari cinta

Pangkep, 18 Februari 2018





You Might Also Like

0 komentar