Coklat, Uang, dan Ilmu

8:56 AM

"Pagi yang cerah, tetap selalu disambut dengan keceriaan, kalaupun tak bisa cukup berpura-pura."

Aku kurang bersemangat hari ini, bisa jadi karena faktor ketidak sembuhan hatiku. Belum lagi, kantong kering. Ah, sudahlah. Aku hanya butuh energi positif untuk kembali bangkit dari keterpurukan.

Pagi sekali, aku sudah duduk di toko kue Chocolicious. Lagi-lagi aku harus menyaksikan kue-kue enak yang jika dimakan sebagai sarapan pagi, cukuplah untuk mengganjal perut hahaha.

Sadar, aku di sini untuk menjalankan tugas negara. Bukan berimajinasi menghabiskan kue relasi.

Bukan apa-apa, aku paling semangat jika harus melihat kue coklat, rasa-rasanya ingin kuemut semua sampai mulutku full. Lumayan, energi positif dari coklat bisa mengembalikan biasanya bisa mengembalikan moodku sekitar 80 persen.

Alhasil, Ownernya berbaik hati memberi kami bingkisan kue oreo coklat. WOW, rezeky anak solehah, dengan bahagia kupegang baik-baik karena pekerjaanku bukan hanya disitu saja. Tugas negara menuju Gedung Keuangan Negara (GKN) masih lebih penting, jadi kutancapkan gas menuju GKN bersama rekan kerja sekaligus sahabat karibku.

Usai di GKN, aku dan sebut saja sahabatku itu Any. Kami menuju kosan, ahh dia juga salah satu rekan kerja dan sahabat karibku di dunia jurnalistik, panggil dia Rani.

Kami memang selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama, kurang satu. Namanya Dini. Nantilah aku perkenalkan mereka.

Kosan kak Rani cukup bagus, lumayan bisa menampung kami berdua. Cuaca lagi sedang dingin-dinginnya, langit sedang mengguyur kota Makassar dengan butir-butir airnya.

Kutuntaskan sedikit berita, lalu kutancapkan motor ke Universitas Hasanuddin, padahal masih hujan. Ahh, entah mengapa kalau ada tugas ke kampus ini, aku begitu antusias.

Tiba di kampus orang, aku bagaikan anak hilang. Tak satupun yang kukenal, malah akunya baper. Andai saja komunikasiku dengan anak mahasiswa hukum yang telah marah berkepanjangan itu tidak seribet ini, mungkin sudah kuhubungi dia, bahwa aku sedang melanglang buana di sebelah fakultasnya.

Sayang sekali, aku hanya mencari secercah harapan, berharap dia lewat lalu kami saling menyapa. Auh auh, sudah sudah. Kembali fokus.

Tugasku kali ini meliput promosi doktor. Aduh, yang ada aku baper. Kepengen. Tapi kapan? Ahh sudahlaah.





You Might Also Like

0 komentar