Tanpa Nama Mari Kita Berdamai

8:31 AM

"Sebut saja kami Tanpa Nama, empat sekawan yang entah bagaimana awal mulanya bisa bertemu. Tapi kami percaya dengan Takdir, karena ini adalah Takdir Tuhan. Mungkin kami jodoh dalam soal pertemanan,"

Bergelut dalam dunia jurnalistik memang tak pernah terbayangkan, aku hanya terinspirasi dari sebuah drama Korea yang berjudul 'Pinocchio'. Kebetulan pemeran utamanya adalah actris andalanku, semakin membuatku kala itu terus berantusias.

Perjuanganku tidak cukup sulit untuk masuk di rana jurnalistik, bukan sombong tapi diluar ekspektasiku. Mungkin karena aku memilih tempat yang masih dalam tahap perkembangan. Aku belum berani dengan kemampuanku untuk melompat pada media yang sudah ternama. Sebenarnya, sampai sekarang aku menyesali pilihan itu.

Namun, aku kembali pada sebuah hikmah dibalik pilihan. Menyesal boleh saja, tetapi beberapa hal yang menjadi kesyukuranku sebab aku bertemu lelaki yang tulus ditempatku bekerja, ahh alasan ini yang membuatku sama sekali merubah penyesalan.

Disisi lain dan yang menjadi intinya karena kehadiran beberapa sahabat yang menerima dengan baik posisiku. Persaingan media tidak semudah yang kubayangkan, rumit, menantang, dan mencekam.

Awal bekerja, satu persatu kukenali. Mulai dari yang muda hingga yang tua. Tapi, persepsiku salah. Mengenal mereka begitu sulit, sistem senioritas masih diberlakukan. Alhasil, kuurungkan niat untuk menjulurkan tangan pada mereka yang bungkam terhadapku.

Pada akhirnya, kutemukan satu persatu kawan, teman, bahkan sahabat. Mulai dari Andini, Any Ramadani, dan Chaerani. Berkenalan dengan kaku, bertemu disela-sela waktu peliputan walaupun tak sering. Namun, aku tak tau apa alasannya. Seiring dengan perjalanan menikmati pekerjaan. Kami mampu menjalin rasa dan menarik satu sama lain.

Orang pertama Andini, dia masih di media Itulah. Sebelum media itu bubar dengan tak wajar, kami berkenalan di hotel Clarion. Hal yang membuat kami akrab karena ternyata dia kebetulan seniorku di kampus yang tak pernah kulihat. Lebih dekat lagi karena rasa empatiku dengan semangatnya menjadi wartawan tanpa memiliki kendaraan. Makanya, aku menawarkan diri untuk sering menjemputnya. Dia sekarang sudah beralih ke media online, namanya Pojoksulsel.com.

Orang kedua Any, seingatku, saat kita pertama bertemu di Pantai Akkarena. Dia masih di Bisnis Sulawesi, sebelum meninggalkan media itu dengan cuma-cuma dan beralih ke Rakyat Sulsel. Aku tidak mengingat dengan jelas kenapa kita jadi akrab. Tapi yang paling mengena dipikiranku adalah orang ini yang mengajarkanku bermain curang dalam dunia jurnalistik hahahha.

Orang ketiga Chaerani, aku paling mengingat pertemuan dengan manusia satu ini. Dulu, aku dapat tuga khusus liputan DJ Angger di Zona. DJ nomor 1 di Indonesia, disitulah aku berkenalan dengannya. Kupikir dia angkuh, yah walaupun pandanganku diawal menganggap dia sombong karena pertama, dia berasal dari media ternama, Sindo Makassar dan yang kedua mukanya yang sok. Kuingat sekali dia bersama dengan prianya. Dugaanku salah, dia biasa saja.

Kurang lebih dengan cara seperti inilah kami berkenalan. Sampai pada akhirnya selalu menyapa satu sama lain, foto berempat dan tertawa bersama dan lama kelamaan kami sadar kalau kebersamaan itu tercipta dengan sendirinya, terciptalah grup "Tanpa Nama".

Walaupun, diantara kami memang banyak memiliki kekurangan. Kami juga kadang cekcok. Tapi tak berlangsung lama.

Bertemu mereka, membuat warna baru di dunia kerjaku. Membuatku tidak hidup sendiri. Kami sering nongkrong bersama, makan bareng, bahkan nginap sama-sama. Semuanya kami lakukan layaknya saudara. Beberapa tempat sudah kami jelajahi. Hingga Rammang-rammang kamipun sudah datangi.

Cafe Daun tempat tongkrong kami, disitu pula aku menemukan sebuah ketulusan dari mereka ketika dengan sabarnya menunggu ku hanya untuk merayakan hari ulang tahunku. Kue pertama, aku dapatkan dari mereka. Thenks ma best friends, love you so much.

Rumah Wakil Wali Kota Makassar juga menjadi saksi, di Kompleks Puri Tata Indah, kami sering menginap ditempat itu dan bergosip sampai pagi. Tak ada yang bisa melarang. Malam-malam yang kami lewati bersama adalah milik kami. Bukan milik yang lain. Mulai sampai A hingga Z, kami selalu kupas tuntas sampai keakar-akarnya. Tak ada yang lolos. Itu kesenangan kami. Setidaknya, kami bisa menertawai malam bersama-sama. Kepuasan yang tak ada duanya.

Kami juga sering kabur di Kosnya Kak Rani, jauh-jauh kesana hanya untuk makan. Sekalipun makanannya hanya sayur kankung dan tempe goreng, tapi karena itu kami makan bersama, terasa lebih nikmat.

Kami juga pernah bercengkrama di pinggiran kota Makassar, samping Pantai Losari. Kami lebih lengkap saat itu. Karena kami membawa pasangan masing-masing. Sumpah, sampai tua, aku tak bisa melupakan kenangan yang kami tertawai itu.

Hingga seperdua malam, kami menikmati hembusan angin pantai dengan tertawa tanpa rasa sadar. Menyeruput minuman dan mengunyah jagung bakar pedagang kaki lima sambil terbahak-bahak. Bahkan, orang-orang yang berada disamping kami lari dengan sendirinya.

Malam itu, terasa dingin, tapi suasananya sangat hangat karena kami mampu membuatnya lebih nyaman dengan candaan. Saling menghina dan membuli, menjadi kenangan yang tak bisa kupungkiri, nyata dan harus kuabadikan dalam memori pikiranku.

Kami menyatu dalam keberagaman, Go Cakrawala, Rakyat Sulsel, Pojok Sulsel, dan Sindo Makassar. Setidaknya kami berterimakasih pada media-media ini yang telah mempertemukan.

Dipenghujung 2015, kami bahkan membuat resolusi 2016. Cafe Food and Flower menjadi saksi impian yang ingin kami capai pada 2016 ini. Masing-masing punya impian yang ingin dibuat nyata.

Masih banyak pertemuan-pertemuan yang tak bisa kutuliskan satu persatu, mulai dari marahnya ini dan itu sampai si ini dan si itu membujuk. Semuanya kuukir dengan baik pada otakku yang sedikit miring ini. Bahkan orang-orang sekeliling kami akan merasa iri jika melihat persahabatan kami yang aduhaaaaii. Padahal, sebenarnya persahabatan kami tak semulus area balap Moto GP. Namun, persahabatan kami seperti jalur perkampungan, banyak batu kerikil dan rintangan yang dilalui.

Kali ini, kenangan itu teramat membuatku dalam kesedihan. Masalah besar tiba-tiba datang, pertengkaran di Grup Tanpa Nama malam itu memuncak. Sampai pada akhirnya, kami pecah menjadi dua. Ini guncangan yang luar biasa. Satunya kecewa, satunya lagi merasa dikecewakan. Dua kubuh yang ingin saling menikam.

Alhasil, semuanya saling bersi keras dan merasa benar. Jujur malam itu aku ikut tumpah dalam tangisan, merasa ikut dalam kekecewaan. Aku tak habis pikir, seseorang yang kupercayai akan melontarkan kalimat seperti itu. Rasanya lebih baik ditikam pisau berkali-kali, daripada harus mendengar kalimat itu dalam sekali.

Kecewa iya, tapi bagaimanapun dia sahabatku. Terlalu konyol kalau kupertahankan ego hanya untuk masalah seperti ini. Kedepannya akan berdampak buruk. Aku yang mencaci persahabatan orang lain dan kali ini kami sendiri yang pecah. Oh tidak bisa, ini tak bisa terjadi.

Sialnya, mereka yang tua malah lebih keras kepala dan sekarang aku kesulitan dalam membujuk. Semuanya sama-sama keras kepala. Ahh, dan aku yang paling muda diantara mereka, merasa kebingungan sendiri. Sumpah, membujuk mereka sama halnya mencari jarum dalam jerami, ah sedihnya.

You Might Also Like

0 komentar