Melupakan Kawan

4:15 PM

"Jika melupakan saya itu yang membuatmu nyaman, maka tak perlu menyuruhku pergi. Terlalu repot, aku yang akan berjalan, sedikit demi sedikit untuk menjauh. Tapi hanya berjalan sedikit, jangan memaksaku berlari."

Menjalani persahabatan yang sudah terbilang lama, bukan hal yang mudah bagi seseorang. Menjalin kata persahabatan hampir sama dengan merajut hubungan pacaran. Butuh proses. Ketika orang berpacaran, mereka juga sering menghadapi masalah. Kata orang, itu bumbu percintaan. Begitupun persahabatan.

Sahabatku, mengenalmu adalah suatu hal yang sangat membuatku bahagia. Tetapi mengenalmu juga menjadi hal yang sangat kusesali. Jika kau hanya hadir untuk mencubit hatiku, lalu pergi tiba-tiba tanpa alasan. Itu lebih sakit. Maka lebih baik kau mencabik-cabiknya terus, tapi tetap tinggal.

Aku benar-benar tidak tahu alasan yang logis mengapa kau pergi begitu saja. Yang kutahu, aku pernah membuat masalah dan mengingkari janji sebelum hari ulang tahunmu. Maafkan aku. Menyesal. Benar-benar menyesal.

Aku menyadari, perkataanmu yang sedikit mengingatkan tentang sikapku yang hanya berubah saat kau tiba-tiba hadir dihari ulang tahunku. Setelah itu, aku mengingat dengan jelas betapa bahagianya kita. Aku seperti menemukan teman sekaligus adik yang benar-benar ingin kusayang dan kujaga. Tahukah kau kebahagiaanku saat itu? Sedangkan aku, tidak tahu harus mendefenisikannya bagaimana. Betapa, aku bahagia. Kala itu.

Sayang sekali, karena kesalahan dan kebodohan. Semudah membalikkan telapak tangan, kebahagiaan itu berubah seketika. Dan lebih dongoknya lagi, aku tidak bisa menyelesaikannya dengan baik. Sadar atau tidak, aku belum bisa memahamimu dengan baik. Rupanya.

Setelah komunikasi yang sudah terputus, sebelum hari ulang tahunmu. Aku terus mencari cara, bagaimana memperbaiki kesalahanku yang sangat ceroboh. Kupertapakan diriku beberapa hari ditempat yang nyaman. Kuputar otak dan terus memikirkan jalan yang baik agar bisa membuatmu memaafkanku.

Bahkan hingga hari H, aku beranjak dari tempat pertapaan dan kembali pada rutinitas yang biasa kujalani. "Sutt, kamu sakit? Lemas begitu," beberapa pertanyaan kerap kali menyapa. Sekadar tersenyum. Karena untuk menjawabnya, kupikir mereka sudah tahu kalau aku sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.

Hingga sekarang, kita tidak saling menyapa satu sama lain. Aku tahu, kau begitu berantusias untuk melupakanku. Aku juga sedang berusaha keras. Hari-hari kulalui seperti sebuah rasa bersalah yang teramat dalam. Kusesali tapi tidak bisa kuperbaiki. Bingung, sebab pesan yang kukirim tidak kau tanggapi. Dingin sekali.

Ahh, aku tahu, egoku belum bisa terkendalikan dengan baik. Lebih memilih untuk kehilanganmu. Padahal, belum siap sama sekali. Ketika kau menghapusku dikontak BBM dan mem blok ku di Line. Itu cukup membuktikan kalau kau sudah murka.

Sampai pada akhirnya, pertengahan tahun 2016, tanggal 14 Juni. Kudapati, kau memblok-ku di twitter, menghapusku pada pertemanan Path dan Instagram (IG). Sontak aku kaget dan ahh, kau tahu apa yang kurasakan? Guncangan bathin, sejenis frustasi. Hatiku bukan kau cubiti lagi, tapi kau kuliti dan kau perasi jeruk nipis.

Karena tidak kuterima, akupun memberanikan diri mengirim pesan melalui personal chat IG. Aku sudah menyudutkan rasa maluku. Aku juga sudah diluar ambang kesadaran sampai mengirim pesan yang tidak karuan. Sekalipun kau membalasnya dengan sangaaat dingin. Selepas itu, alhasil, terimakasih telah memblok ku di IG.

You Might Also Like

0 komentar