Syahdu Ramadhan dan Do'a Mahasiswa di Tanah Haram

6:51 AM

Ramadhan Penuh Berkah Bersama Abutours & Travel


“Setiap orang punya rezeky ke Baitullah, mereka akan mendapatkannya dengan cara berbeda-beda, sesuai keberuntungan masing-masing".



Saat masih kecil, bagiku Ramadhan seperti teman lama yang datang berkunjung ke rumah. Meskipun kehadirannya baru nampak di ujung jalan, di tikungan sana, hati senangnya bukan main. Aku tinggal di lingkungan yang selalu meriah setiap menyambut bulan Ramadhan, sebuah perkampungan sederhana dengan lorong-lorong sempit.
Ketika ramadhan tiba, masjid-masjid seolah berhias. Seluruh warga beramai-ramai mencuci karpetnya, menyapu dan mengepel lantainya, diberi pewangi ruangan, bahkan kadang dicat ulang. Halaman masjid dibersihkan, rumput disiangi, ditanami tanaman-tanaman baru. Anak-anak juga boleh membantu.

Kini, aku mulai tumbuh dewasa dan sudah menjadi seorang mahasiswa. Meski tak sesumringah saat kecil. Tapi aku selalu menyambut Ramadhan dengan riang gembira. Dan Alhamdulillah, bibir tipis yang selalu terlihat pucat ini, tak pernah berhenti berucap syukur ketika Travel Umroh Abu Tours memberikan kesempatan emas kepadaku melaksanakan ibadah umroh gratis di bulan Ramadhan.

Hatiku bergetar dan tiba-tiba menitikkan air mata penuh haru setiba di Bandara Jeddah. Setelah mengucap salam, aku masih belum percaya sepenuhnya, jika hembusan angin sepoi-sepoi yang kurasakan saat ini adalah Negara King Salman, Arab Saudi.

“Subhanallah, ini serasa mimpi,” kataku dalam hati sembari melongo menyaksikan suasana sekeliling. Yang ada hanya orang dengan badan tinggi dan hidung yang panjang. Membuatku terkesima.

“Ya Allah, luar biasa ciptaan-Mu di sini, melihat mereka seakan melemahkan Aqidahku, Astagfirullah, sadar sadar sadar,” ujarku.

Selama sembilan hari aku akan berada di Tanah Haram dan beribadah dengan khusyuk. Do’a yang kupanjatkanpun berharap diijabah oleh Allah Ta'ala. Sebab do’a-do’a tersebut sudah kupersiapkan jauh-jauh hari untuk kuutarakan khusus di Masjidil Haram. Karena do’a yang diminta di Tanah Suci akan dikabulkan.

Ketika Tawaf, aku hanya memikirkan kedua orang tuaku. Bayangan dan nama mereka tak pernah terlepas dari ingatanku, begitupun dengan do’a yang kuharapkan untuk mereka berdua agar segera berkunjung ke Baitullah. Namun, do’a yang paling utama adalah keinginanku sejak dahulu tentang perubahan ayahku agar menjadi lebih baik. Aku sangat menginginkan beliau betul-betul mengenal agama dan menjalankan segala perintah-Nya.

Sejujurnya hal ini telah lama kupendam, sejak kecil hingga sekarang, aku sangat jarang melihat ayahku menjalankan shalat lima waktu. Ayah hanya menginjakkan kakinya di masjid jika ingin shalat Jum’at dan di bulan Ramadhan, itupun hanya shalat tarwih, bolong-bolong pula.

Aku semakin sesak ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebab melihat ayah teman-temanku yang rajin ke masjid, membuatku semakin iri. Sehingga, aku sering merintih dalam hati. “Kapan ayah bisa seperti ayah teman-temanku?”.

Keluargaku memang tak mengenal agama dengan baik. Ayah tak pernah membekali dan mengajarkan kami ilmu agama. Bersyukur, aku punya niat mengaji di salah satu Taman Kanak-kanak Alqur’an, sehingga aku sedikit tahu tentang agama. Bagaimana dengan ibu dan adik-adikku? Merekapun sama dengan ayahku. Toh, mereka tidak mendapat bimbingan dari orang yang kami anggap sebagai kepala keluarga.

Namun, aku terus berdo'a agar mereka mendapat hidayah. Alhasil, ibu mulai memperlihatkan perubahan. Ketika anak sulungnya ini mendaftar di perguruan tinggi, di dalam kamarnya, aku menyaksikan ibu dengan mukenahnya, menengadahkan tangan seraya meminta kepada Allah agar anaknya bisa lulus di salah satu universitas di Makassar. Dan inilah hasil dari do'a ibuku, anaknya sudah tumbuh dewasa, dan sekarang sedang menjalani studi program pasca sarjana di salah satu universitas ternama. Terlebih, anaknya mendapat rezeky ke Tanah Suci. Semua itu, tak terlepas dari do'a-do'a sang ibu tercinta.

Olehnya itu, tak hanya ibu, aku juga ingin hal seperti itu terjadi pada ayah. Setidaknya, ayah ingin melaksanakan shalat lima waktu dulu. Aku memohon dengan hati yang tulus, didepan kabbah aku berserah diri dan bersimpuh kepada Allah sekiranya keinginanku terkabulkan.

Akupun kembali ke Indonesia dengan hati yang jernih, membawa oleh-oleh untuk keluarga, sanak saudara, dan teman-teman. Ibuku sangat bahagia melihat anaknya yang baru saja melaksanakan ibadah umroh, ia langsung memeluk dan menciumku. Ini sangat jarang terjadi.

Libur Ramdhan masih berlangsung, jadi selama bulan puasa aku berada di kampung halaman. Tiba-tiba aku melihat sebuah keajaiban do’a. Usai makan sahur, ayah bersiap-siap menuju masjid untuk melaksanakan shalat Subuh. Aku tercengang dan benar-benar ingin melompat kegirangan melihat ayah yang menggunakan peci dan baju kokohnya.

“Alhamdulillah, memasuki pertengahan puasa, shalat Subuh, Maghrib, apalagi Tarwih. Ayahmu belum ada yang bolong. Beda sama tahun lalu, Tarwihnya cuman tiga. Kali ini, dia begitu rajin ke masjid,” terang ibuku, memberi informasi. Padahal aku tidak bertanya. Tapi mendengar pernyataan itu, aku sangat ingin meneteskan air mata. Dalam hatiku seraya berdoa, semoga tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Meski belum sempurna lima waktu, bagiku ini adalah perubahan besar.

Usai lebaran, tentunya masih ada liburan selama beberapa hari. Aku sangat penasaran dengan perubahan ayah, sebab dari awal aku merasa pesimis. Apakah ibadahnya hanya hangat-hangat tahi ayam atau memang itu sudah menjadi niatnya dalam diri.

Menjelang salat Maghrib, ayah segera menyuru adikku menutup bengkel. Lalu ia bersih-bersih diri, setelah itu berpakaian rapi dan memakai peci. Adzan berkumandang, ayahpun ke masjid. Masya Allah, sebuah getaran menggema dalam sanubariku menyaksikan pemandangan yang indah ini. Mulai sedikit demi sedikit, ayah melaksanakan kewajiban salat lima waktu.

"Ya Allah, terimakasih karena engkau mengabulkan do’aku, ini juga tak terlepas dari berkah di bulan Ramadhan yang memberikan kepada ayahku petunjuk. Semangat ayahku, jadilah imam yang baik untuk ibu dan kepala keluarga yang membanggakan untuk istri dan anak-anakmu," kataku dalam hati.



#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh

Semoga diary ramadhanku bermanfaat untuk teman-teman. Oh iya, saya sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan  Bersama Abutours & Travel. Bersama Abu Tours, lebih dari sekadar nikmatnya ibadah. Jangan lupa kunjungi www.abutours.com untuk mendapatkan informasi haji dan umroh murah. Terimakasih.

You Might Also Like

0 komentar