Problematika Ongkos Kuliah

8:24 AM

"Buat apa aku bekerja jika tidak mampu membiayai diri sendiri, Ma".

Ponselku berdering beberapa kali, ternyata tak heran. Itu Mama. Hanya dia yang selalu menelpon jika tak diangkat, akan berkali-kali.

Kadang aku terlalu sibuk, sampai telpon dari orang yang sangat penting pun ku abaikan. Dosanya.

"Assalamu'alaikum, Ma. Kenapaki?" Kataku dalam bahasa daerah.

"Bagaimanami uang SPP nu? Sudahmi mubayar?" Tanya Mama dengan logat dan dialek khasnya.

"Sudahmi Mak, darimeka bank kemarin," jawabku.

"Adaji uangnu Nak? Adekmu banyak sekali juga mau nabeli utk sekolahnya," katanya.

Aku terdiam, itu kode dari Mama bahwa dia sedang kesulitan keuangan dan tidak bisa membantuku untuk membayar uang kuliah. Biaya S2 ku memang lumayan mahal, sebenarnya aku sudah bisa membayar uang kuliah sendiri dari gaji yang kusisihkan. Hanya saja, orangtuaku sering memaksa untuk menambahkan sedikit. Namun aku sering menolak.

"Janganmeki pikirki kalau uang kuliahku, adami kusimpan itu," jawabku menenangkannya.

"Alhamdulillah, iye pale nak. Ka adekmu ini banyak sekali juga kebutuhannya. Istirahatmeko. Ituji mau kutanyakan," celotehnya.

Telponpu ditutup.

Dan aku?
Menangis tersedu-sedu.
Sangat sedih.

Hatiku teriris. Bukan karena merasa kecewa tidak mendapat biaya kuliah dari orangtua. Tapi aku merasa masih menjadi beban yang berat utk orangtua. Sesulit-sulitnya mereka. Mereka masih saja mengingat kebutuhan anaknya.


You Might Also Like

0 komentar