Hadiah Romantis buat si Tukang Bengkel dan Istrinya

8:38 PM

"Rezeky itu bisa dicari, tapi kebahagiaan sulit diciptakan"

Lahir sebagai anak tukang montir sudah menjadi garis tanganku. Hidup di kampung dengan berkecukupan, punya saudara banyak, rumah sempit, bahkan ruang yang dipakai makan, itu pula digunakan untuk tidur di malam hari.

Bermodal dinding dan atap dari seng yang akan terasa panas di siang hari, lalu terlalu dingin di malam harinya sudah biasa bagi kami. Tak terkecuali air yang sering tembus dari atas seng ketika musim penghujan. Rutinitas yang kadang membuatku tertawa sambil menangis. Miris.

Bukan salah orangtua melahirkan kami dari keluarga yang tak berkecukupan. Meski berada ditengah-tengah keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Aku tetap bisa bertahan hidup hanya dengan makan hasil kerja dari baut-membaut dan jualan oli.

Sore itu, aku dan keluarga sedang berkumpul di ruang yang biasa kami gunakan makan, tidur, masak, bahkan menonton televisi (tv). Keributanpun dimulai ketika kedua adikku yang menonton tv, sedang marah karena siaran yang ingin disaksikan gambarnya buram. Kesemutan.

“Yah, kapan kita punya tv baru? Saya tidak bisa ikut bercerita dengan teman-teman di kelas kalau lagi bahas siaran tv,” keluh adikku yang sudah mulai merajuk.

Ayah hanya tersenyum, sambil fokus memperbaiki gagang kacamatanya yang patah. Sementara ibu serius memotong sayur yang akan dimasak untuk makan malam.

“Yah, buat apa gagang kacamata itu dilem. Nanti aku belikan yang baru di Makassar,” cetusku.

Namun ayah tetap saja meneruskan pekerjaannya. Sementara adik-adikku tetap melanjutkan pertengkaran.

“Nanti ayah perbaiki tv-nya. Dan kacamatanya masih bisa diperbaiki, simpan saja uang kamu untuk membeli makanan di Makassar.” tutur ayah, membuat kami semua terdiam.

Aku anak sulung dari lima bersaudara. Bayangkan beban ayahku yang harus menafkahi lima anak dengan bekerja hanya sebagai tukang bengkel. Ironisnya, dari hasil kerjanya ia bahkan mampu menyekolahkan kami hingga ke universitas.

Dari keluarga tak mampu, aku tumbuh menjadi anak perempuan tangguh. Betapa lama aku memendam rasa sakit sebagai orang miskin.  Ke sekolah dan pulang sekolah berjalan kaki, diberi uang jajan seadanya, itupun sering kena palak dari teman kelas. Kadang aku mengeluh dengan hidup yang kulalui, mengapa aku tak dilahirkan dari rahim ibu-ibu sosialita atau kalau perlu yang punya perusahaan besar.

Namun, kerasnya hidup menyadarkanku. Jika kebahagiaan tidak diraih dengan kekayaan tetapi bagaimana kita bisa merasa teduh. Aku belajar ikhlas dari kekurangan. Aku meyakini, lahir dari kedua orangtua yang tak berkecukupan ini memiliki makna tersendiri.

Kami selalu menjalani hidup biasa saja. Kami bersyukur karena masih punya tempat tinggal dan bisa menikmati makan dengan melingkar bersama keluarga, meski tanpa meja. Lesehan.

Makan malam yang sederhana, ibu selalu menyajikan menu nikmat ketika aku pulang ke kampung. Bahkan adik-adikku sering protes. Katanya, aku ini anak kesayangan ibu sebab suka sakit-sakitan.

“Kak, ini punyaku. Jangan diambil,” teriak adik bungsuku sambil mengambil udang yang kurebut darinya.

“Hahahaha sepotong saja, pelit amat!” candaku.

Begitulah suasana tiap kali kami makan, penuh dengan pertengkaran romantis. Situasi seperti ini kunikmati sekali sebulan ketika pulang kampung. Maklum, aku anak rantau yang hanya balik sehabis gajian.

Adzan subuh berkumandang, usai shalat aku bersiap-siap untuk kembali ke kota Daeng. Ibuku juga bangun lebih awal untuk membantuku mempersiapkan barang-barang. Terutama segala jenis bungkusan yang harus kubawa ke kota. Seperti beras hingga lauk pauk.

“Bu, ini sedikit uang dari gajiku. Disimpan yah,” ujarku.

“Tidak perlu nak, tabung saja untuk dirimu,” ibu menolak.

“Tidak apa-apa bu, ini hanya sebagian. Aku punya simpanan yang lain kok. Pakai saja ini untuk membeli keperluan ibu dan ayah,” tuturku.

Akupun mencium tangan ibu dan ayah, berpamitan.

Udara dingin yang masih sejuk, kuhirup penuh haru. Entah setiap kali aku melakukan hal seperti ini. Air mataku selalu menetes saat dalam perjalanan menuju kota Makassar. Sepanjang perjalanan, aku selalu berpikir. Kapan aku bisa memberikan hadiah istimewa untuk mereka berdua. Orang yang sangat kucintai.

Semakin aku beranjak dewasa. Pola pikirku perlahan mulai berubah dan semakin berpikir realistis. Aku menjadi tulang punggung keempat adikku. Sambil kuliah S2, aku juga bekerja di salah satu perusahaan. Alhamdulillah, dari gaji yang kudapat mencukupi uang makan dan hidupku di Makassar, bahkan bisa kutabung untuk membayar biaya kuliah dan sesekali kuberikan kepada ibu.

Melihat kerutan wajah kedua orangtuaku, menjadi beban moral yang mulai kupikul. Walaupun mereka tak mengharap balasan. Tetapi sebagai orang yang beranjak dari anak ingusan dan menjadi anak yang sedikit berguna, sekiranya aku punya rasa malu tersendiri.

Usia orangtuaku semakin bertambah, tenaga ayah untuk bekerja bahkan semakin berkurang, ia tak mampu lagi mengangkat benda-benda yang berat.

Sebagai anak yang hidup diperantauan, aku hanya sesekali mengunjungi mereka di kampung. Tapi terkadang, memilukan menyaksikan mereka dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Hingga aku berpikir ingin mendaftarkan mereka umroh murah di travel Abu Tours. Insya Allah.

Meski masih sementara niat, tapi keinginanku membeli kursi pesawat untuk ayah dan ibu ke Makkah. Insya Allah bisa kulakukan. Selama aku berusaha.

Aku mulai mengumpulkan biaya umroh untuk orangtuaku. Dari informasi yang kudapatkan, Abu Tours salah satu travel yang memberikan paket umroh murah. Meskipun sekarang dana yang kupunya belum cukup, tapi aku mulai menyisihkan sebagian gaji agar segera mencukupi.

“Ayah dan ibu, bersabarlah. Jika memang sudah rezeky, kalian akan segera ke Tanah Haram. Aku juga selalu berdoa agar pekerjaanku berjalan lancar. Rezeky ku berberkah dan bisa segera mengumpulkan uang yang mencukupi untuk membawa kalian terbang ke Makkah. Aamiin,” harapku.

Saya sedang mengikuti Blog Contest Ramadhan  Bersama Abutours & Travel. Bersama Abu Tours, lebih dari sekadar nikmatnya ibadah. Jangan lupa kunjungi www.abutours.com untuk mendapatkan informasi haji dan umroh murah. Terimakasih.
#LebihDariSekedarNikmatnyaIbadah #SemuaBisaUmroh

You Might Also Like

0 komentar