Resign Tiba-tiba Sama dengan PHK

7:58 AM

"Menjadi baik, itu keinginan. Tapi menjadi jahat, itu pilihan"

Kadang, ketika kita telah merasa jadi orang baik. Sesungguhnya kita lah orang yang paling jahat. Entahlah, perasaanku sekarang lagi campur aduknya. Seperti sedang terpuruk tapi terpaksa harus tegar.

Aku baru saja menjadi orang yang sangat jahat. Memotong uang makan seseorang. Reporterku sendiri. Sebabnya, aku terlalu banyak keluhan dan merasa dia adalah sumber masalah dalam pekerjaanku, sehingga kukeluhkanlah kepada atasanku. Dan fix, dia dipecat.

Oh my god, itu hanya sinopsis dari kisah yang terjadi. Panjang ceritanya karena bukan hanya aku yang mengeluh. Atasanku pun merasakan hal yang sama denganku. Sebenarnya. Hanya saja, dia bawahanku dan akhirnya, aku yang menjadi penyebab dia kehilangan mata pencaharian.

Aku pikir, ini bukan murni kesalahanku. Semua orang berkata "Dia memang sudah ingin dipecat, bukan salahmu. Jangan bersedih hati," ada pula yang mengatakan "Memang kau pantas sedih, dia bawahanmu dan tiba-tiba harus dipecat,"

Yah, tiba-tiba. Yang tiba-tiba ini lah yang membuatku shock. Tiba-tiba reporterku ini mengirimkan pesan di WhatssAp. "Kak, saya minta maaf kalau selama ini banyak salah. Salam buat teman-teman yang lain,"

Tak ada hujan, tiba-tiba ada petir. Belum lagi dibarengi guntur. Siapa yang tak shock?

"Apa ini? Kenapa tidak ada perbincangan sebelumnya dan tiba-tiba kau diPHK?" Gerutuku.

Tak ada jawaban atas pertanyaan itu. Semuanya membenarkan kenyataan bahwa, dia memang pantas untuk mendapat pemecatan.

What? Tak ada satupun yang membelanya. Hanya aku yang bertahan. Menangis.

"Kenapa harus secepat ini?" Tanyaku belum bisa menerima.

"Karena ini sudah keputusan HRD, terimalah. Dia sudah lama ingin dipecat. Jadi tak perlu merasa bersalah," jawaban temanku, berusaha meyakinkan. Tapi itu sungguh menekan bathinku.

Tidakkah dia akan merasa dendam padaku?
Tidakkah dia akan menganggap pemecatan yang dia dapatkan karena keegoisan, ketidaksabaran, dan kejahatanku?

Dia akan berpikir, bahwa akulah benalu dari semua kekacauan yang terjadi dalam dirinya. Aku tahu itu.

*
Mengapa aku sedih?
Karena aku merasa gagal mendidik orang yang sudah dipercayakan kepadaku. Aku gagal menjadi seorg pengajar. Rasanya aku yang tidak pantas.

Hanya sebulan dia menjadi bawahanku, reporter. Tapi sebulan itu, kesabaranku tidak mampu melewati ujiannya. Sayang sekali. Sepertinya, dia meang sulit diubah. Dunianya bukan dalam ilmu jurnalistik.

Aku berdoa, dia lapang dada menerima segala keputusan perusahaan dan pihak yang memberinya putusan. Dalam hatiku, sungguh tulus, meminta maaf. Sekalipun, aku org yang sangat sulit mengatakan maaf. Tapi aku telah belajar dari seseorang. Bahwa kata maaf itu, sangat dibutuhkan dalam hal-hal tertentu.




You Might Also Like

0 komentar