Diam Saja atau Tak Berjumpa

7:33 AM

"Bagimu, kita hanya perlu saling memperhatikan dalam diam. Sepertinya kau sudah mendirikan dinding yang amat kokoh dengan menggunakan Semen Tonasa (*ups). Namun bagiku, apa yang ada di antara kita bisa saja menjadi pintu, bukan dinding. Kau hanya perlu membuka dan berjalan melewatinya. Aku akan menunggu di depan"

Melupakan seseorang ketika usai kecewa padanya tatkala hal yang teramat sulit. Dilema. Sebab ingin acuh namun juga butuh. Satu-satunya hal yang bisa menjadi penyelamat adalah mempertahankan gengsi.
Namun, semakin kita berusaha untuk saling melupakan, maka semakin besar pula perasaan saling ingin bertemu.
Mengapa?
Karena selalu ada celah, seperti tetiba saja ada hal manis yang mengingatkan tentang dirinya. Apakah itu tentang senja, minuman kesukaannya, warna favoritnya, ataupun senyuman simpulnya.
Mau mengelak?
Bisakah kau melawan alam bawah sadarmu yang terus menerus memperlihatkan hal-hal tentang dia. Mengusikmu.
Benar atau tidak, yah begitulah adanya. Akhirnya munafik pun terpelihara. Padahal dalam hatimu meminta kepada Tuhan. 'Pertemukanlah saya dengan cara yang amat sederhana'.
Memikul rasa sendiri termasuk beban moril. Apa tak lagi menyimpan pilu dengan memendam kata-kata yang sebenarnya ingin diungkap bahwa 'Hei, Aku menunggu kabarmu! Itu saja'. Bercakap lebih? Sungguh ingin, tapi rasa-rasanya lebih menyenangkan jika dilakukan secara langsung. Empat mata dalam pertemuan yang tak disangka-sangka. Itupun mustahil.
Aku cukup berharap, kita bisa kembali menyapa senja bersama, dengan meneguk segelas teh dan kopi di tempat di mana mana hati kita senang, dalam mimpi misalnya.




You Might Also Like

0 komentar